Inilah Sistem Keamanan Baru ATM Anti-Bobol


INILAH.COM, Jakarta - Mabes Polri terus mencoba membuat pihak bank percaya kalau sistem Life Fingerprint Security merupakan salah satu cara transaksi yang bisa mencegah kejahatan pembobolan ATM tak terulang kembali.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Indentification System (INAFIS), Brigjend Bekti Suhartono. Menurutnya kini tinggal bagaimana otoritas kebijakan BI dalam menyikapi sistem pengamanan ini. Cara ini merupakan salah satu cara transaksi lewat ATM yang baru di Indonesia, dan kini beberapa Bank sudah dijadikan percontohan.

"Sekarang beberapa bank sedang kita jadikan sample project. Tinggal nanti bagaimana otoritas kebijakan BI menyikapi hal sistem pengamanan itu secara nasional di semua bank kami akan lihat. Apakah akan menggunakan proyek yang kami tawarkan itu atau tidak," ujar Ka INAFIS, Brigjen Bekti Suhartono, di Mabes Polri, Jumat (29/1).

Berdasarkan keterangan Brigjend Bekti Suhatono, Life Fingerprint Security merupakan sistem pengamanan yang sederhana tapi terjamin tingkat keamanannya. Hanya diperlukan penambahan satu alat baru, yang berupa alat pemindai sidik jari tanpa membongkar mesin ATM, atau mengunakan mesin ATM khusus.

Nantinya alat pemindai sidik jari itu nantinya akan diletakan tepat di bawah akses untuk memasukan dan mengluarkan kartu ATM. Alat fingerprint ini nantinya akan langsung terhubung dengan alat pembaca kartu ATM yang telah berada sebelunya di setiap mesin ATM.

Nantinya jika seorang nasabah ingin melakukan transaksi melalui ATM, maka dia harus meletakan ibu jarinya di alat scan yang telah tersedia. Sidik jari tersebut selanjutnya akan otomatis terekam dan diidentifikasikan dengan data image/template/minutia sidik jari si pemilik yang tersimpan di dalam kartu ATM (match on card).

Apabila kedua data sidik jari ternyata tidak cocok, maka permintaan penggunaan kartu ATM otomatis akan ditolak dan kartu akan secara otomatis keluar. Dengan demikian hal ini akan mencegah kemungkinan terjadinya penyalahgunaan kartu ATM. Saat ini Polri tengah mengumpulkan sidik jari secara online.

Hingga kini tercatat sekitar satu jutaan sidik jari sudah berhasil terkumpul. Itu akan digabungkan dengan seluruh sidik jari warga negara yang ada di seluruh Polsek, Polres, Polda, dan instansi terkait seperti Departemen Dalam Negeri, Imigrasi, dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Polri mengatakan sistem ini tidak akan menjadi hambatan bagi warga negara asing yang ingin mengunakan ATM ini. Karena mereka yang hanya sekitaran 0,2 persen dari pengguna transaksi keuangan melalui kartu ATM di Indonesia juga akan diberlakukan hal yang sama. Polri juga mengatakan memperketat kemungkinan sistem ini dibobol oleh pelaku kejahatan dengan mengatakan bahwa sidik jari hanya dapat diverifikasi jika masih terdapat denyut nadi kapiler yang mengalir dari setiap jengkal organ tubuh manusia.

Sehingga meski pelaku pembobolan ATM terlebih dahulu membunuh korbanya untuk mendapatkan sidik jari korban, maka hal itu juga tidak akan berhasil. Termasuk jika jari si pelaku pembobolan dibakar atau direndam dalam air untuk waktu yang lama dan atau sengaja digoreskan, untuk mengaburkan proses identifikasi sidik jari, perlakuan tersebut juga tetap sia-sia.

Brigjend Bekti mengaku belum mengetahui berapa kisaran biaya yang dibutuhkan pihak bank untuk menggunakan sistem tersebut. "Itu tergantung maunya pihak bank, sistem pengamanannya maunya bagaimana. Diganti semua sistemnya atau hanya ditambah alat pemindainya atau apa?" katanya.

Untuk proses pencantuman identifikasi sidik jari di dalam kartu ATM, Bekti mengaku itu sepenuhnya kebijakan pihak bank. "Kami tidak mencampuri itu. Bagaimana caranya yang pasti data minutia seseorang itu mesti ada di dalam kartu ATM sebelum sistem pengamanan itu digunakan nantinya," ujarnya.



0 komentar:

Posting Komentar